Oleh: jendelajauhari | September 24, 2008

Mak Ucu di Taman Bunga…

Namanya Budi Nasanti

 

Namanya Budi Nasanti, konon nama itu dipetik dari dua sumber terkait dengan kelahirannya. Budi dipetik dari nama rumah sakit budi kemuliaan tempatnya lahir dan santi, diambil dari nama dokter santo yang menolong mami yatinah yang bersuamikan abah abdul malik syukur melahirkan putri bungsunya.

Nampaknya sederhana saja dua penggal kata itu disatukan menjadi sebuah nama yang indah : “budi nasanti”. Namun dalam perjalananya nama itu ternyata  mengandung  petuah yang disandang oleh yang punya nama. 

 

Kata ”budi” identik maknanya dengan “budi pekerti”  tanpa diterjemahkanpun setiap orang tahu maksudnya.  Dan kata santi yang kutahu  berasal dari kata jawa kuno “sasanti atau susanti” yang bermakna petuah atau pitutur.  

Aku bukan ahli bahasa, namun sepertinya tidak meleset  bila namanya diartikan sebagai “ajakan untuk berbudi atau berbuat baik”.

Penampilannya yang sederhana, tutur kata dan sapaannya yang bersahabat kepada setiap orang, sikapnya yang jauh dari arogan, sence of humornya yang tinggi namun sopan,  semangat silaturahminya yang luar biasa serta kepeduliannya kepada keluarga, teman dan  saudara menujukkan budi pekertinya.

 

Tanyakan kepada semua yang pernah mengenalnya kapan dan dimanapun, adakah sisi sisi negatif dalam perilakunya, adakah penyakit hati seperti khasad, dengki, iri, sombong, ria, takabur, serakah, tamak, buruk sangka danlainnya terbawa dalam sikapnya sehari hari.

Tanyakan kepada semua yang pernah mengenalnya kapan dan dimanapun, pernahkah ia berbuat semenamena sehingga membuat orang atau pihak lain menederita atau merasa didzolimi atau pernahkah ia berkta bohong untuk memfitnah atau membenci orang lain?  Rasanya bila dijawab dengan jujur tak pernah ia berbuat seperti itu.

 

Beberapa bulan setelah kelahirannya, mami yang bidan di kawasan pulau tambelan Riau Kepulauan harus kembali mengabdikan diri bekerja untuk masyarakat disana karena ia satu-satunya bidan di kecamatan itu, dan abah malik yang kepala desa di tembelan juga tak bisa terlalu lama meninggalkan tugasnya.

Cuaca di akhir tahun 1963 yang didominasi hujan dan  angin kencang di samudra Hindia tidak memungkinkan abah dan mami membawa santi kecil ke tambelan, dan karena itulah santi dititipkan kepada mak mintariyah sudjadi, mbakyu kandung dan saudara tunggal dari mami yatinah, dan selanjutnya dibawanya santi kecil  ke brebes. Dia diasuh oleh budenya dengan curahan kasih sayang sama dengan mami yatinah selaku ibu kandungnya.

 

Santi bersekolah di SD negeri dua brebes atau sering disebut  sd sakalputung.  Jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan jalan kaki melewati belakang kantor kawedanan brebes. bisa belok kanan lewat jalan raya, atau lurus melewati gang sampai dengan pinggiran kali sakalputung.

Disepanjang pinggir kali itu ada pematang yang banyak ditumbuhi rumput. Bila berjalan disitu anak-anak SD yang berangkat ke sekolah biasanya suka menendang nendang rumput yang masih dihinggapi embun bening hingga sepatunya basah. Bau segar rumput yang baru dipotong oleh peternak merupakan aroma khas bila melewati pematang itu.

Santi kecil mungkin berlari bekejaran riang dengan teman temannya, menendang embun dan menghirup aroma segar rumput basah, disinari hangatnya sinar mentari pagi yang kadang terhalang oleh rimbun pohon albasiah yang berjejer di pematang itu.

Dia anak bungsu dari sembilan saudaranya yang lain mulai mas han sampai mas cep, namun dari kecil hingga masa remajanya dia selalu menjadi anak sulung.

Ketika di rumah mak min di brebes, yang serumah dengan keluarga mas disman, dia menjadi kakak dari ulis dan adik adiknya, dan ketika meneruskan sma sampai sarjana muda hingga bekerja dan menikah denganku di jakarta, di rumah mas teguh poerwoko, dia merupakan kakak tertua dari ita, mok dan nina.

Menurut mbak yayuk, sewaktu di kramat asem dia komandan. mengapa ? karena santi diserahi tugas mencatu uang saku untuk ketiga anaknya.

Perannya sebagai sulung tentunya diwarnai dengan suka dan mungkin juga duka.

 

Ada beberapa panggilan akrab dari keluarga yang menyertainya. Rani, Ninuk, Zikri, Ajeng, Retno, Arif, Sarah dan adik adiknya sangat akrab memanggilnya Mak Ucu.  Ulis, Ita dan adik adiknya memanggilnya Mbak Anti, demikian juga mbak Yayuk. Mas Han sampai mas Cep memanggilnya Santi, hanya empih yang sering memanggilnya Santrem. Dari keluargaku resmi memanggilnya Santi atau mbak Santi, sementara ponakan-ponakanku memanggilnya bude santi dan cucu dari kakak-kakakku memanggilnya mbah santi. Sementara Bayu, Danu, Seto dan adik adiknya memanggilnya Wak Anti. semuanya sangat akrab.

Aku sendiri, Abi dan hani memanggilnya mamah.  Di kalangan tetangga dan teman kantor dia dipanggil mama abi atau mama hani atau bu rowi.

 

Selepas kuliah hingga tamat sarjana muda di unas, santi sempat beberapa kali bekerja di tiga perusahaan.  Aku sendiri mengenalnya setelah santi di jakarta, karena tempat tinggal kami  yang satu jalandi asem gede-III.  Perjalanan waktu membawaku akrab dengan santi hingga menikah pada 22 mei 1988.

Mahligai rumahtangapun kumulai dari sebuah rumah BTN di harapan baru yang fasilitasnya jauh dari sempurna. Rumah type 36 dengan dua kamar dan tanpa pagar depan.

Hanya pagar bambu di samping rumah untuk sekedar menjaga tidak masuknya anjing dan kambing ke bagian belakang halaman rumah.

Hanya ada seperangkat bawaan lemari dan toalet dan tempat tidur kayu yang kami pesan sebelum menikah, ditambah kulkas kecil dan tivi 14 inci yang kubeli bekas dari tetanggaku yang pulang ke kalimantan. Meja kursi tamu pun bekas pemberian mbak al, ditambah meja makan pemberian mbak yayuk.

Subkhanallah ….. istriku mengawali semua itu dengan senyum tanpa keluhan….

 

Waktu berjalan cukup panjang….. dan kami hanya mampu setapak demi setapak memperbaiki kondisi rumah dan ekonomi rumah tangga. Dan…. subkhanallah….. berkat kepiawaian dan sikap sabar dan budi pekerti santi yang halus….. rasanya hampir tidak ada keluarga dan tetangga  yang tau jungkirbalik ekonomi keluarga kami. Semuanya dikemas dengan kesahajaan dan pengorbanan sebagai istriku dan ibu dari abi dan hanni.

 

Tak adil rasanya bila aku hanya mengungkapkan sikap santi ketika kami dalam kondisi ngepas, karena Tuhan memang sudah sedemikian murahnya kepada keluarga  kami.. Namun santi tetaplah santi yang bersahaja. 

Ketika  aku diberikan rezeki lebih dari Allah… dan diberinya kesempatan untuk bisa memberikan sesuatu kepada istriku seperti perhiasan yang secara alamiah disukai setiap wanita…. santi hanya mau menerima yang kecil kecil saja bahkan sering dia menolak secara halus pemberianku dengan dalih mungkin ada kebutuhan lain yang lebih penting….. subkhanallah….bahkan untuk kebutuhan pribadinya  seperti itupun dia menomorsekiankan dirinya sendiri.   

 

Duh Gusti Kang Moho Agung….. Panjenengan  Ingkang Ngecet Mengkreng kalian Nguyahi Laut……… tidak pantaskah bila setiap saat kumohonkan ampunan bagi almarhumah….? tidak pantaskah bila setiap saat kumohonkan ganjaran dan surga bagi mendiang istriku ?

Banyak Orang sering menyitir sebuah hadist dengan sangat dangkal. Mereka seakan perawi yang langsung tahu dari sumbernya. ”Bila seseorang meninggal putuslah segala amalnya kecuali tiga hal : Ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan doa anak yang saleh….”  sering hal itu dipakai untuk menyalahkan bahkan membodohkan seseorang yang mendoakan selain orangtuanya… padahal masih banyak riwayat lain yang menunjukkan bahwa nabipun pernah berdoa untuk jenazah yang bukan keluarganya.

 

Hijrah ke Sumatra

 

Putaran waktu membawa kami hijrah ke sumatra. Dari hiruk pikuknya jakarta kami seakan dikembalikan kesuasana kota kecil di lubuklinggau. Kami secara pribadi bisa menikmati suasana itu karena perjumpaan kami di rumah lebih panjang dan lebih intens, setiap hari aku bisa makan dirumah menikmati maskan istriku. apalagi lingkungan di perumnas tempat kami ngontrak seakan sangat terbuka menerima kehadiran bahkan membantu keluarga kami bila diperlukan. Kami menerima ini dengan rasa syukur, walaupun anak anak kadang mengeluh bahwa sekarang mereka tinggal di kampung, jauh dari mall dan tempat mainan yang sering mereka nikmati ketika di jakarta.

 

Menginjak tahun ke lima aku diamanahkan memimpin kantor cabang disini. Santi menerima ini dengan wajar saja. dia menciumku, memelukku  dan mengucapkan selamat ketika malam itu kusampaikan tentang amanah ini. Kami saling berwasiat untuk bersikap wajar. Meskipun mungkin semua tatapan mata mengarah pada kami dan tentunya masing masing punya pendapat dan tanggapan sendiri, namun hampir semua mengucapkan selamat kepada kami dengan nada tulus .

 

Aku tahu santi cukup berpengalaman di organisasi ibu-ibu dan aku tau kalau dia masuk ke salah satu organisasi maka dia akan berperan banyak disitu. Sejak mulai sekolah dia sudah dipakai di organisasi internal, mulai OSIS, Pramuka bahkan ketika mahasiswa pun dia masuk kelompok Paduan Suara Kampus dan HMI. di lingkungan perumahanpun dia disibukkan sebagai ketua arisan, pengurus majlis taklim dan sebagainya. dan sekarang santi menerima tugas  memimpin forum silaturhmi istri karyawan yang dulu bernama darma wanita, di kantor cabang yang membawahi lima kota dan kabupaten.

 

Namun perjalanan perusahaan yang profesional memang lain dengan organisasi pemda atau departemen, dimana peran darma wanita tampak dominan.  Di perusahaan kami urusan organisasi istri karyawan hanya berbentuk forum untuk  saling mengenal dan berbaur. Namun Santi tetap punya peran besar disitu. Ia banyak menyambangi para pensiunan dan para istri pensiunan tua yang seakan sudah tidak disapa lagi oleh siapapun. Aktivitas sosialnya membuat mereka tersapa dan merasa di-wong-ke oleh jajaran manajemen. Ia juga melanjutkan unit simpan pinjam dengan skala kecil yang banyak membantu ibu-ibu disaat mereka membutuhkan. Perhatiannya pada panti asuhan yatim piatu diasaat event-event ramadhan dan ulang tahun perusahaanpun tak lepas dari kiprahnya yang berawal dari niat di hatinya yang bening. Bahkan disaat kas organisasinya agak minimpun aku tahu dia mampu menyalurkan sumbangan sebagaimana biasanya.

Kadang disaat menjelang tidurku dimalam malam libur Santi menceritakan masalah-masalah ini. Beberapa kesulitan mengelola SDM dalam kepengurusan serta attitude sebagian  fungsionaris dan anggota tentu ada dalam organisasi sekecil apapun.  Satu yang kupesankan ialah agar dia berbuat dengan excelent dan menyingkirkan hal hal miring bilamana ada yang mengarah kesana. Satu kata yang dipegang : Biarlah waktu yang bicara dan membuktikan niat baik dan keihlasannya. Beberapa kali kusampaiakan bahwa pada saatnya nanti waktu akan bicara bahwa dia orang yang baik dan bertanggung jawab.  

 

Tahun 2007 Gusti Allah menganugerahkan rejeki bagi kami untuk berangkat haji. Sewaktu rencana itu kusampaikan…. lagi lagi santi merendah…. walaupun aku sudah menghitung biaya untuk pergi haji bersama, namun selalu saja istriku tidak ingin membuatku repot : ”pah.. biarlah kalo nggak cukup papa dulu aja nanti aku belakangan”. dalam kurun waktu dua puluh tahun perkawinan kami, kalimat kalimat seperti itu seringkali mengalir bening ketika aku menawarkan sesuatu padanya.

 

Sebenarnya santi juga berperan dalam ekonomi keluarga, sejak tahun 2004 dia memulai bisnis dagangan gorden dan batik dari yogya. Sepanjang itu rasanya order terus mengalir dan tanpa terasa sudah banyak barang keperluan rumahtangga, pakaiannya dan hani  yang dibelinya sendiri. Bahkan uang belanjapun tanpa hitungan sering diambil dari uangnya kalau aku belum sempat memberi tambahan.

 

Virus Lupus ….. (?)

 

Pertengahan Mei santi mengeluh padaku adanya beberapa bintik merah berjajar di wajah dan punggungnya. Iapun memeriksakan ke dokter bahkan dilanjutkan pemeriksaan ke prof dr. Suroso, ahli kulit ternama di palembang. Tiga kali santi kesana dan prof suroso memang mengindikasi seperti ciri lupus. Namun beliau menyarankan untuk diobati dulu. Setelah tiga kali berobat ternyata sembuh sekitar bulan agustus, ketika itu manasik haji sudah dimulai setiap minggu dan menjelang ramadhan santi kelihatan sudah normal. Seperti tahun-tahun sebelumnya disambutnya Ramadhan dengan suka cita. Tak lepas dia selalu menghidangkan makanan makanan buka puasa dan sahur memenuhi selera keluarga. Pesanan-pesanan gorden dan batik yogya juga agak merepotkannya. Namun bukan santi bila ramadhan dan lebaran diisinya dengan membuat kue sendiri.

 

 

 

Lebaran 2007 dan Perjalanan Haji

 

Aku lega melihat aktifitas santi normal kembali menjelang dan selama Ramadan. Setiap hari kami berbuka dan sahur bersama. sholat tarawih pun sering kami lakukan bertiga dengan hani dan berempat ketika Abi sudah liburan di linggau. Kami sekeluarga selalu menjadikan Ramadhan sebagai moment penting untuk reuni dan saling berkasih sayang seluruh keluarga, khususnya untuk Abi yang sejak tamat SD sudah melanjutkan sekolah ke pesantren As Salam di Solo.

Sama sekali tidak terpikirkan oleh kami bahwa Ramadhan 1428H adalah Ramadhan terakhir yang kulalui bersama istriku, walaupun sering kami dengar melalui ceramah di masjid dan tivi yang mengingatkan : ”mungkin ramadhan tahun lalu masih ada salah satu keluarga kita yang berpuasa bersama kita, tetapi Ramadhan ini telah menghadap Allah SWT”.

Lebaran 2007 kami memang berencana sholat ied di brebes sekalian mau pamitan menjelang keberangkatan kami ke tanah suci. Karena kebetulan Nunung dan Erman,  Agus dan Yuni juga akan berangkat ibadah haji, demikian juga Empih dan Mbak Mur serta Mbak Nul dan mas Wawan. Namun tentunya kami juga bersilaturahmi dulu ke kakak-kakak di jakarta.

Lebaran 2007 juga kami lalui dengan sangat indah. Santi memanfaatkan kesempatan itu untuk bersilaturahmi dengan keluarga, tetangga dan sahabat-sahabatnya baik di jakarta, brebes dan dan di komplek perumahanku di bekasi. Aku tidak tahu apakah masih ada sisa-sisa virus Lupus di tubuhnya, namun kondisi tubuhnya yang sudah normal, tidak adanya keluhan dan keceriannya saat itu, ditambah semangat dan rasa suka cita kami yang akan memenuhi rukun islam ke lima dengan menunaikan ibadah haji ke baitullah membuatku jauh sekali dari ingatan bahwa idul fitri tahun 2007 itu merupakan Idul Fitri yang terakhir bersama santi.

 

Sepulang kami dari lebaran di jakarta dan brebes, santi tetap semangat menyelesaikan tugas tugasnya. Seluruh kebutuhan untuk persiapan haji untuk kamipun dia yang memfasilitasi, termasuk untuk pelaksanaan walimatus syafar. Aku hanya menyediakan uangnya saja.

Tak tampak kelainan sejak terakhir santi berobat di palembang, walaupun aktivitasnya  memang menyita tenaganya dan terkadang santi tampak lelah. Beberapa kali santi minta tolong tukang pijit langganannya, bahkan bila terpaksa dia juga minta tolong aku.  Namun secara umum tidak ada keluhan khusus, karena flex di muka dan badanpun sudah tidak tampak lagi. kami sering mengingatkan untuk menjaga kesehatan menjelang kebrangkatan haji.

Sementara kesibukanku  terus menyita hingga menjelang berangkat haji tanggal 25 nopember 2007, seakan hampir tidak ada hari libur dimana aku seharian penuh ada di rumah. Namun santi sangat memaklumi dan menerima keadaan itu. Tak pernah ia mengeluh tentang aktivitasku dua tahun terakhir yang sangat menyita privacinya sebagai istri. Dia memaklumi hal itu sebagai tugas suami.

 

Ibadah haji

Kami beserta rombongan kloter haji lubuklinggaupun berangkat tanggal 25 nopember 2007. Sebuah perjalanan ibadah yang memang membutuhkan kondisi phisik yang prima.   Dimulai naik bus dari linggau ke palembang dengan waktu tempuh sekitar 8 jam. Sampai diasrama haji pun masih mencari kamr masing masing di area yang cukup luas dengan menenteng bawaan yang cukup berat. Tak sempat istirahat  yang cukup, perjalanan berlanjut ke bandara dan menunggu disana cukup lama dengan dan mengantri

sampai ke pesawat. Kami terbang sekitar 10 jam lebih untuk sampai di Mekkah dan sampai disanapun menunggu proses imigrasi haji untuk selanjutnya meneruskan perjalanan dengan bus ke medinah dengan jarak tempuh sekitar 10 jam.  Santi yang duduk di sampingku tampak agak pendiam, mungkin kelelahan, namun sekali lagi…. tak ada keluhan yang terucap.

 

Kegiatan arba’in, sholat 40 waktu di madinahpun dimulai, santi da ibu-ibu lain tampak sangat semangat. Hari pertama sampai keenam dilaluinya tanpa keluahan rasa capek dan sebagainya.  Setiap saat aku menjumpainya di depan kamarnya yang khusus wanita, satu lantai di atas kamarku.  Santi masih nampak riang bahkan dia sangat bersyukur bisa beberapa kali shalat dan berdoa di Raudlah dengan cukup mudah ditengah kerumunan jutaan orang. Namun pada hari ketujuh kakinya bengkak dan kondisi badannya pun sakit, aku juga mengalami colics, pinggangku muter nggak karuan, disetai rasa mual dan pusing di kepala. sampai sampai aku mengajak dokter mahendra dan seorang perawat lain berobat ke wisma Indonesia di madinah.

Perjalanan hajipun dilanjutkan ke Mekkah, dimulai dengan umrah…. santi melakukan itu dalam kondisi kaki yang masih belum normal dan masih belum begitu sehat, namun semua dilakukannya sendiri mulai dati tawaf sampai sai dan tahallul. Aku mencukur menggunting beberapa helai rambutnya sebagai syarat tahallul.

Sesudah umrah itu santi lebih banyak sholat di maktab, hanya beberapa hari melakukan sholat di masjidil haram. Hal ini sesuai dengan anjuran panitia bahwa masih ada rukun haji utama yang merupakan syarat sahnya haji yang masih harus dilalui yaitu wukuf di arafah. Akupun sering menemaninya di maktab. Diantaran waktu menjelang wukuf tersebut kami sempat bertemu agus dan yuni, nunung dan erman, empih dan mbak mur dan mbak nul serta mas wawan.  Mereka sering menengok santi yang masih sakit. Dan di mekah inipun aku sempat mengantarnya dua kali ke pusat pelayanan kesehatan indonesia di mekah, ditemani dokter mahendra, kepala puskesmas tugumulyo, yang ditugaskan jadi dokter pendamping haji di kloterku. Indikasinya adalah kebocoran ginjal yang menyebabkan bengak di kaki. 

Pelayanan dokter dan dua perawat pendamping cukup baik kepada kami, beberapa kali dua perawat itu membimbing santi di lengan kanan dan  lengan kirinya apabila harus dibawa ke dokter sektor, di tempat maktabnya empih dan nunung, yang berjarak sekitar seratus meter dengan kondisi jalan berbukit yang cukup terjal.  dokter mahendra memang sering minta advis padaku tentang akses internet di kantornya dan akupun pernah berkunjung ke puskesmasnya karena memang termasuk wilayah pelayanan kantorku.

 

Sampailah kami pada hari wukuf di arafah. Saat itu kondisi santi masih sakit dan kakinya bengkak. dimulai dari perjalanan untuk mabit di musdzalifah di malam hari. Cukup lma kami menunggu disana diantara jutaan manusia yang melaksanakan ibadah haji. Alhamdulillah akhirnya kami terangkut denga bis ke mina walaupun beberapa karom di kloterku sempat tertinggal sampai siang, bahkan ada jemaah dari negara tetangga malaysia yang katanya terlantar sampai siang dan terpaksa melanjutkan perjalanan dengan biaya sendiri.

Di perkemahan mina saat wukuf di Arafah, ketika itu kaki santi bengkak cukup serius, ada saja kejadian yang menambah sakitnya : salah satu ibu ibu rombungan yang membawa teh panas terpeleset dan air panas itu menimpa kaki santi. Ya Allah….. kami disyaratkan untuk sabar tidak marah dalam waktu wukuf itu. Santi hanya mengelus kakinya yang bengkak memerah biru akibat sengatan air itu. Wajahnya hanya menunduk pasrah…..Aku sangat prihatin melihat kondisi istriku.

Paginya saat melempar jumrah hari pertama, tak mungkin dengan kondisi seperti itu Santi harus berjalan sekitar tiga kilometer. Namun rukun haji ini bisa diwakilkan oleh orang lain. Dan akupun mewakili santi dan bude margono, tetangga yang dititpkan kepadaku untuk melempar jumrah aqobah.

Dalam kondisi yang kakinya yang masih membengkak semangat bveribadahnya tetap tinggi. Dan dihari ketiga dia minta ikut melempar sendiri .. aku sebenarnya agak keberatan tapi santi menyampaikan bahwa dia sanggup berjalan sejauh itu. Dan … luar biasa. Dilaluinya perjalanan tiga kilometer pulang pergi dengan kondisi kakinya yang masih sakit tanpa keluhan apapun. Bahkan ketika selesai dan pulang untuk umrah hajipun santi melakukan tawaf sampai dengan sai sendiri.

 

Menjelang kepulangan ke Indonesia sebenarnya kondisinya sudah mulai membaik, hanya saja kelelahan nampak meliputinya. Aku sangat bersyukur walaupun santi terpaksa harus banyak sholat di maktab. Aku lebih sering menemaninya dan kadang mengantarnya mencari makanan Indonesia di sekitar maktabku seperti bakso dan sate ayam dan soto.  Dan akhirnya sampailah kami ke Indonesia. Santi masih nampak sangat lelah, namun masih tetap menerima tamu dengan senyuman dan ucapan terima kasih. Sempat pula membagi oleh oleh haji, mengantar mbak yayuk dan mbak Unyih yang menunggyi rumah menjelang kami pulang,  kemudian mengantar rombongan Mbak Mut dan mas Toni untuk makan ikan bakar di Tugu Mulyo.

 

” Mak Ucu di taman Bunga…”

 

Sesampai kami di rumah Lubuklinggau, tamu pun berdatangan bik dari tetangga, jemaah masjid, jemaah majlis taqlim ibu-ibu dan teman teman kantor serta saudara dari Brebes dan jakarta. Namun baru tiga hari di rumah, aktifitas menungguku di kantor, bahkan seminggu kemudian ada undangan ke medan.  Aku melihat santi masih lelah, namun ketika aku akan berangkat ke Medan dia setuju untuk tinggal di rumah agar dapat istirahat.  Namun agaknya sepulangku dari Medan kondisinya masih tetap lemah, bahkan dua hari dirawat di rumah sakit hapsari lubukinggau.

Ketika kusampaikan berita ini ke jakarta, kakak kakak sepakat untuk membawa santi ke jakarta agar bisa dirawat lebih intensif. Dan berangkatlah Mbak Mur dan Mbak Nul menjemput ke Lubuklinggau. Dan sabtu tanggal 26 januari 2008 santipun dibawa ke jakarta. Kupesankan pada agen travel langgananku untuk menyiapkan kursi roda begitu sampai ke bandara bengkulu. Aku sendiri tidak bisa ikut karena ada tugas ke palembang.

Istirahat dua hari di rumah empih, hari senin 28 januari santipun mulai dirawat di RS Mitra Internasional Jatinegara. Sekitar dua minggu di rawat di ruang biasa, akupun mondar mandir menengoknya dari linggau ke jakarta lewat bengkulu. Menurut dokter yang merawat, dokter mukijan. Dia mengatakan bahwa serangan virus lupus memang sering berpindah. Untuk kasus santi pertama diserang bagian ginjal, kemudian pindah ke darah dan saraf.

Minggu ketiga santi diharuskan pindah ke ruang semi intensif. Aku kembali menengoknya dengan ijin cuti alasan penting. Kondisinya agak membaik setelah sempat ditidurkan selama dua hari di ruang ICU.

Pada minggu ketiga aku mendapat kabar gembira dari kakak-kakak bahwa kondisi santi mulai membaik, bahkan rencananya hari senin tgl. 25 pebruari akan dirawat di ruang perawatan biasa untuk penyembuhan. Subkhanallah….. ku sms kawan-kawanku dan kusampaikan kabar gembira ini kepada sebagaian tetangga yang hampir setiap hari nanya kondisi santi. Sebuah perhatian luar biasa dari mereka terhadap istriku….. Akupun memang sudah siap nengok pada senin siang setelah acara serah terima jabatanku.

 

Namun hari sabtu malam minggu aku kembali mendengar kabar bahwa kondisi santi kembali serius bahkan harus dirawat di ICCU. Ketika aku sampai di jakarta santi sudah dalam keadaan koma dan tak bisa berkomunikasi normal. Setiap aku keruang iccu kubisikkan harapan bahwa mulai sekarang aku tidak begitu sibuk seperti tahunh lalu, dan aku bisa lebih sering dirumah seperti dulu. Aku ngomong sendiri di kuping santi namun tidak ada respon secara verbal, hanya air matanya yanf sedikit menetes di pelupuknya.

 

Hari Rabu, 27 Pebruari dua hari sebelum kepergiannya, dua kali HP dan kacamataku jatuh, bahkan kacanya sempat berpencar. Dalam batinku aku bertanya da firasat apa ini. Sementara kutemui dokter-dokter yang merawatnya setiap ada kesempatan. Bahkan dokter Mukijan memanggilku secara khusus menyampaikan kemungkinan terburuk yang bisa dialami istriku.  Namun sebagai suami aku tetap berharap akan kesembuhannya. Bahkan pernah kusampaikan kepada Tuhan : sembuhkanlah istriku walaupun dalam kondisi apapun.

Malam harinya kudirikan tahajud dua kali dua rakaat tepat kumulai jam tiga dini hari. Aku berusaha untuk sholat secara khusyuk. Kusingkirkan segala pikiran yang mencoba masuk ke benakku, karena aku ingin berdialog dengan Tuhan.  Dua kali dua rakaat kulai dengan khusyu dan kulanjutkan dengan doa.  Dan setelah shalat tahajjud itulah kumiringkan badanku ke kanan sambil tiduran menirukan riwayan nabi yang ada di buku buku bacaanku.  Tak terasa kantuk menyerangku di saat aku menunggu subuh dan Allah telah menganugerahkan mimpi yang sangat indah : Aku pulang kerumahku… kulihat rumah putih bersih bersinar dan santi ada disamping rumah, disebuah taman bunga yang juga dihiasi rona yang segar. Disampingnya nampak seseorang yang membantu dan menemaninya. Dia tersenyum melambaikan tangan pdaku ketika aku masuk kehalaman. Ditinggalkannya taman bunga itu dan dia menuju dapur menyiapkan minuman untukku, seperti kebiasaannya setiap kali aku pulang kantor.    Subkhanallah …. aku terjaga dari mimpiku, kulihat waktu hampir subuh. Kuucapkan alhamdulillah karena tidak terlewat shalat subuhku.

 

Entah kenapa aku jadi tenag dengan mimpiku itu… namun aku tetap berkonsultasi ke dokter untuk menemui yayasan lupus. Harapanku mungkin saja ada kasus sejenis yang dapat diselamtkan… dan dokterpun memberi riwayat singkat sakitnya santi sebagai acuan dokter di yayasan lupus.   Saat itu Jumat 29 pebruari 2008, ketika aku masih berikhtriar untuk kesembuhannya santi menghembuskan nafas terakhirnya. Abi, Nunung dan Mbak Mur pergi bersamaku ke yayasan lupus di jalan kramat, tapi hani dan sebagaian kakak kakakku ada disampingnya. Separo nyawaku seakan hilang saat itu, namun aku disadarkan oleh beberapa firman Allah santipun telah tahu dan mengerti betul maknanya

Selamat jalan mah………

ternyata waktu memang berbicara sangat indah tentang kepergianmu..

Engkau yang selama ini bersikap santun, ramah, sbar dan peduli……

Engkau yang dengan segala telah membaktikan diri kepada suami dan mengasuh anak anakmu

Engkau yang telah menyelesaikan Ramadhan dengan indah, bahkan membayar utang puasamu sebelum kepergian hajimu…

Engkau yang telah bersilaturahmi di sekitar Idul Fitri, memohon maaf  kepada sanak keluarga dan handai tolan

Engkau yang telah bersilaturahmi dengan tetangga dan teman teman saat menjelang dan sesudah kepulangan hajimu….

Engkau yang dengan susah payah berhasil menyelesaikan rangkaian rukun dan wajib hajimu…..

Engkau yang telah menunjukaan sikap sabar selama sakitmu …. menerima cobaan Tuhan

Yang kutahu dalam bacaanku ….. semua itu akan bersimbah pahala dan menghapus dosa

Engkau Telah kembali menghadap sang Khalik dalam momentum yang sangat indah…..

Aku cemburu kepada Tuhan dengan kepergianmu yang khusnul khatimah….. ingin rasanya akupun pergi dengan momentum yang indah sepertimu.

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rooji’uun………

 

(ramadhan 1429 h)


Tanggapan

  1. selamat jalan tente santi. Allah menyayangimu dengan memanggilmu lebih dulu. Semoga Allah memberikan surga keabadian untukmu. Kami selalu menyayangimu, bahkan lebaran ini kami merasakan ada yang kurang lengkap… tanpamu.

  2. ..misyu mak ucu..


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.