Oleh: jendelajauhari | September 1, 2008

Kyai Oli dan Harimau

<dari beranda pengajian kang muslim bin buchori>

Namanya Buchori, dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga santri di sebuah desa di pinggir hutan di tepian bukit yang sejuk. sudah beberapa pesantren terkenal di jawa timur dan jawa tengah dengan beberapa spesialisasi keilmuan dia masuki atas perintah orang tuanya. mulai dari belajar ilmu fiqih, tajwid, sampai ilmu falak bahkan tasawuf.

Dia benar benar patuh menuruti kemauan orang tuanya untuk nyantri. barangkali tertanam dihatinya bahwa orang tua adalah wakil tuhan yang harus dipatuhi tanpa sepatah kata “ah…”pun.  bahkan menatap wajah abah dan uminya ketika berbicarapun sedikit menunduk, baginya tak santun menatap orang tua dengan mata sejajar dengan wajah mereka. 

Perjalanan waktu mengusung buchori ke usia limapuluhan. sudah lama ia menikah dengan putri salah satu pengasuh pondok pesantren. namun tuhan belum juga memberinya keturunan. buchori dan istrinya ikhlas, karena mungkin itulah kehendak tuhan. mereka fokuskan hidup sebagai takmir mesjid dikampung itu sambil mengurus sawahladang sebagai sumber asap dapurnya.

Salah satu kekurangan buchori adalah bicaranya yang cadel. dari kecil hingga usianya yang menginjak senja, ia tak mampu mengucap huruf “er” dengan benar. setiap ketemu huruf “er” maka yang keluar dari mulutnya adalah bunyi “el”.

Bagi seorang alumnus berbagai pesantren seperti Buchori, hal itu berakibat cukup fatal. tak layak ia mengajarkan tajwid apabila tidak mampu melafadzkan kalimat al qur’an dengan fasih.  Karena bicarannya yang cadel ini orang memanggil nama buchori dengan bucholi…. lalu dalam kesehariannya mereka memanggilnya “Kyai Oli”. Buchori hanya tersenyum ikhlas mendengar panggilan itu.

Inilah yang membuat Buchori tidak pernah mau mengajar anak anak kampung mengaji. bahkan tak pernah mau menjadi imam sholat di mesjid itu. Kata hatinya yang bersih, misi dakwahnya yang sederhana dan ihlas membuatnya mengalihkan dengan dakwah bil hal,dakwah dengan perbuatan.

Ia mencoba untuk bersikap santun sesuai tuntunan nabi. kejujuran, kerendahan hati, memberikan zakat, infaq dan sodaqoh ia lakukan tanpa banyak tahu. barangkali hanya dia,istrinya,amil zakat dan tuhanlah yang tahu amalsaleh buchori. dia lebih suka mengisi namanya dengan hamba allah ketika sang amil menyodorkan list bertulis nama pemberi infaq,zakat dan sodaqoh.  Bahkan untuk mengajarkan ngaji anak anak kampung didatangkannya alumnus pesantren adik-adik kelasnya dengan biaya dari buchori. dan inipun tanpa seorang yang tahu.

Dia tidak mau menggurui orang-orang sekampungnya. dia hanya memberikan contoh melalui perilaku kesehariannya.  Namun hampir disetiap kesunyian sepertiga malam menjelang subuh, diantara rakaat-rakaat tahajjud dan witir, dengan desah disertai linangan air mata dan sesenggukan yang kelu…. tak luput doanya untuk seluruh masyarakat agar tuhan melimpahkan hidayah bagi lingkungan sekitarnya.  Subkhanallah ….

Ditengah masyarakat yang serba verbal, yang hanya tahu sesuatu yang tampak dipermukaan, maka buchari bukan siapa-siapa. mereka hanya melihat buchari sebagai tukang sapu mesjid yang hanya melakukan amal ringan bagi seorang pengangguran. bahkan mereka mempertanyakan berapa buchari digaji dari dari uang kotak amal. diantaranya malah menginginkan buchari diganti dengan orang yang lebih muda agar tenaganya bisa lebih kuat mengurus mesjid.  Beberapa pemuda kampung yang sempat kuliah dikota dan telah memetik sedikit ilmu agama pun hanya memandang sebelah mata kepada Buchori. Diantaranya ada yang sedikit pelihara jenggot berpeci haji, bahkan ingin menjadi imam tarawih dan mengisi ceramah kala mereka libur di bulan ramadhan.

Buchari menyikapi itu dengan bersyukur kepada tuhan… karena sebagian doanya seperti dikabulkan.  namun bagi orang sekaliber Buchari dalam memaknai sikap para pemuda itu, dalam hatinya yag terdalam ia tahu masih ada unsur ria dalam pengejawantahan laku dan sikapnya.  namun kearifan buchari membuatnya mendukung siapa saja yang ingin tampil kerangka Mau-idhotul khasanah.  Namun dia tetap khusyuk dalam doanya agar tuhan benar benar menunjukkan kebenaran diatas kebenaran yang hakiki.

Tersebutlah pada suatu hari….. sebuah peristiwa yang sudah belasan tahun tidak terjadi di desa itu rupanya terulang kembali. Masyarakat desa dipinggir hutan dibalik bukit itu dikejutkan oleh kedatangan harimau yang sudah memakan korban beberapa ternak penduduk.  kian hari ayam dan kambing bahkan beberepa sapi milik warga sudah menjadi korban sang harimau. untuk seminggu ini jumlahnya sudah belasan warga kehilangan hewan ternaknya.

kebiasaan masyarakat desa menghadapi peristiwa itu ialah mencari pawang harimau yang memasang sesaji di beberpa sudut desa. ketika hal itu dilakukan sebetulnya buchori kurang setuju. dia menyarankan untuk melapor saja kepada yang berwajib untuk dicarikan solusinya. namun apalah arti buchori dimata masyarakat yang hanya memandang sesuatu dari satu sisi semata.

sudah beberapa pawang diundang kedesa itu dan sudah puluhan sesajen terbuang sia sebagai persyaratan penakluk sang harimau. kas desa sudah sangat menipis dan beberapa orang yang dipandang mampu untuk menyumbangpun rasanya sudah bosan memberikan sesuatu yang sia sia. saran buchori untuk melapor ke pihak yang berwajibpun akhirnya dituruti. namun beberapa kali pendekatan yang dilakukan tidak mampu juga menangkap sang harimau. makin hari korban ternak makin bertambah dan ibu ibu desa semakin kawatir kalo suatu saat ternak habis maka dia dan anak anaknya lah yang dimangsa sang harimau.

beberapa orang tua yang tau siapa buchori yang sebenarnya, berbisik agar pak lurah meminta saran kepada buchori. maka dirujuklah kesepakatan agar dibaca ayat ayat al qur’an di beberapa sudut desa.  pemuda pemuda yang dianggap fasihpun ditugaskan oleh pak lurah dan orang tua mereka untuk mengaji.

Sebuah keajaiban terjadi… sangharimau yang besar dan nampak menampakkan dirinya. namun dia tetap saja meraung dengan erangan yang hebat dan membuat para pemuda yang belum selesai melafadzkan ayat ayat yang akan dibacanya lari kalang kabut. bahkan petugas perangkat kelurahan pun sebagian turut berlari menyelamatkan diri.

Pada saat itulah buchari dengan tenangnya mengambil al qur’an yang tadi ditinggalkan oleh para pemuda. dengan suaranya yang cadel dia berusaha meneruskan membaca al qur’an tidak jauh dari tempat sang harimau mengerang ganas. beberpa ayat dilantunkan oleh buchori….. dan semua terkesiap ketika sang harimau diam kemudian berbalik memasuki hutan … melompat kencang sekan harimau itulah yang ketakutan.

Sejak hari itu tidak ada lagi korban ternak milik penduduk. desa kembali tenang dan buchori pun tetap meladang dan mengurus mesjid seperti biasa. tak ada kata somboong dan sikap takabur yang nampak darinya. bahkan ketika pak lurah dan perwakilan tokoh masyarakat menemuinya untuk mengucapkan terima kasih. buchori hanya tersenyum. wajah bersihnya sedikit menunduk…. sama seperti ketika ia berbicara dengan abah dan uminya dan hanya ada kata pelang dari buchori : “kita semua wajib bersyukur kepada Tuhan yang telah menolong warga desa ini….”

tak ada kata saya…. tak ada ungkapan ria….. tak ada kesombongan sedikitpun dalam tutur dan gerak buchori ketika itu, karena buchori tahu …. sekecil apapun kesombongan… hanya kan menghalangi pintu surga.    Subkhanallah

 


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.