Oleh: jendelajauhari | September 24, 2008

Mak Ucu di Taman Bunga…

Namanya Budi Nasanti

 

Namanya Budi Nasanti, konon nama itu dipetik dari dua sumber terkait dengan kelahirannya. Budi dipetik dari nama rumah sakit budi kemuliaan tempatnya lahir dan santi, diambil dari nama dokter santo yang menolong mami yatinah yang bersuamikan abah abdul malik syukur melahirkan putri bungsunya.

Nampaknya sederhana saja dua penggal kata itu disatukan menjadi sebuah nama yang indah : “budi nasanti”. Namun dalam perjalananya nama itu ternyata  mengandung  petuah yang disandang oleh yang punya nama. 

 

Kata ”budi” identik maknanya dengan “budi pekerti”  tanpa diterjemahkanpun setiap orang tahu maksudnya.  Dan kata santi yang kutahu  berasal dari kata jawa kuno “sasanti atau susanti” yang bermakna petuah atau pitutur.  

Aku bukan ahli bahasa, namun sepertinya tidak meleset  bila namanya diartikan sebagai “ajakan untuk berbudi atau berbuat baik”.

Penampilannya yang sederhana, tutur kata dan sapaannya yang bersahabat kepada setiap orang, sikapnya yang jauh dari arogan, sence of humornya yang tinggi namun sopan,  semangat silaturahminya yang luar biasa serta kepeduliannya kepada keluarga, teman dan  saudara menujukkan budi pekertinya.

 

Tanyakan kepada semua yang pernah mengenalnya kapan dan dimanapun, adakah sisi sisi negatif dalam perilakunya, adakah penyakit hati seperti khasad, dengki, iri, sombong, ria, takabur, serakah, tamak, buruk sangka danlainnya terbawa dalam sikapnya sehari hari.

Tanyakan kepada semua yang pernah mengenalnya kapan dan dimanapun, pernahkah ia berbuat semenamena sehingga membuat orang atau pihak lain menederita atau merasa didzolimi atau pernahkah ia berkta bohong untuk memfitnah atau membenci orang lain?  Rasanya bila dijawab dengan jujur tak pernah ia berbuat seperti itu.

  Baca Lanjutannya…

Oleh: jendelajauhari | September 1, 2008

Kyai Oli dan Harimau

<dari beranda pengajian kang muslim bin buchori>

Namanya Buchori, dia dibesarkan dalam lingkungan keluarga santri di sebuah desa di pinggir hutan di tepian bukit yang sejuk. sudah beberapa pesantren terkenal di jawa timur dan jawa tengah dengan beberapa spesialisasi keilmuan dia masuki atas perintah orang tuanya. mulai dari belajar ilmu fiqih, tajwid, sampai ilmu falak bahkan tasawuf.

Dia benar benar patuh menuruti kemauan orang tuanya untuk nyantri. barangkali tertanam dihatinya bahwa orang tua adalah wakil tuhan yang harus dipatuhi tanpa sepatah kata “ah…”pun.  bahkan menatap wajah abah dan uminya ketika berbicarapun sedikit menunduk, baginya tak santun menatap orang tua dengan mata sejajar dengan wajah mereka.  Baca Lanjutannya…

Oleh: jendelajauhari | Agustus 30, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.